A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/mgl011/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/mgl011/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/mgl011/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/mgl011/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/mgl011/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/mgl011/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/mgl011/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

MENIKMATI PESONA KAWASAN CANDI SELOGRIYO

ANASTASIA TITISARI WIDYASTUTI Artikel


Dari ketinggian sekitar 10 meter, sebagian besar bangunan utama Candi Selagriya hanyut dan berantakan bercampur longsoran tanah. Pohon pinus, nangka, maupun pohon lain ukuran besar juga terlempar sekitar 20 meter.

 

    Itulah sepenggal paragraf dari berita berjudul “Tamatkah Riwayat Candi Selagriya?” yang dimuat Kedaulatan Rakyat edisi Minggu Pon, 3 Januari 1999 di halaman pertama. Judul tersebut memang tidak berlebihan mengingat pada tanggal 31 Desember 1998 dini hari sekitar pukul 02.30 sebagian besar bangunan Candi Selogriyo runtuh tertimbun longsoran Bukit Condong.    

    Menurut juru pelihara Candi Selogriyo, saksi mata saat peristiwa yang hampir dua puluh tahun lalu tersebut terjadi, ketika itu bagian bangunan yang masih tersisa hanya bagian candi sisi barat. Bagian yang tersisa ini pun sudah miring. Dia tidak menyangka bahwa Candi Selogriyo yang dahulu pernah diluluhlantakkan oleh longsoran tanah Bukit Condong itu bisa disusun ulang oleh tangan-tangan ahli dan bisa kembali berdiri kokoh di antara perbukitan di sekitarnya. Bahkan, kini menjadi salah satu daya tarik wisata di Kabupaten Magelang yang banyak diminati wisatawan, terutama wisatawan asing.

     Candi Selogriyo terletak di kaki Bukit Condong di Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, lebih kurang 15 kilometer dari Kota Magelang. Ada dua rute yang bisa ditempuh untuk mencapai lokasi ini. Dari arah Yogyakarta bisa melalui rute Yogyakarta--Kota Magelang--Jalan Sentot Prawiro Dirjo--Pasar Bandongan--Desa Kembangkuning--Dusun Campurejo--Candi Selogriyo. Dari arah Semarang bisa melalui rute Semarang--Ambarawa--Kecamatan Secang--Desa Payaman (Pemandian Kalibening)--Kecamatan Windusari--Desa Kembangkuning--Dusun Campurejo--Candi Selogriyo. Baik rute pertama maupun rute kedua (sampai Dusun Campurejo) bisa dilalui dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dan sudah dilengkapi dengan penunjuk arah yang mudah terbaca. Dibanding rute pertama, jalan di rute kedua relatif lebih lebar.

    Akses menuju Candi Selogriyo adalah melalui Dusun Campurejo. Kita harus menyusuri jalan aspal sempit sepanjang 200 meter yang diapit oleh rumah-rumah penduduk. Begitu keluar dari permukiman warga, kita akan sampai di gapura pertama sebagai tempat pemungutan retribusi. Cukup membayar Rp 3.000 bagi wisatawan lokal dan Rp 10.000 bagi wisatawan asing, kita bisa menikmati panorama alam yang terhampar antara Dusun Campurejo dan Bukit Condong, tempat berdiri Candi Selogriyo.

    Jalan sepanjang lebih kurang 1,5 kilometer antara Dusun Campurejo dan Bukit Condong ini adalah jalan setapak yang sudah dikonblok dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki dan kendaraan roda dua. Bahkan, jika berpapasan dengan kendaraan dari arah yang berlawanan, salah satu kendaraan harus berhenti karena di sisi utara ruas jalan ini adalah jurang dan hamparan sawah yang berteras-teras, sedangkan di sisi selatan berupa perbukitan. Saat berpapasan dengan warga setempat inilah kita bisa merasakan keramahan tegur sapa mereka.





Gapura Candi Selogriyo


   


Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi keindahan tersering sawah yang membentuk pola-pola yang menyerupai deretan lintasan. Ketika padi masih hijau, mata kita akan disuguhi panorama yang serbahijau. Ketika padi mulai menguning, ada pemandangan yang agak berbeda karena hamparan terasering sawah akan dihiasi oleh tanaman padi yang mulai menguning dengan latar belakang yang bisa berupa langit, permukiman warga, pepohonan di lereng bukit, maupun lembah, bergantung dari mana posisi kita melihatnya. Selain panorama yang indah, kita bisa menyaksikan aktivitas warga setempat yang mayoritas petani.


Setelah dimanjakan dengan panorama alam yang luar biasa sepanjang menempuh perjalanan lebih kurang 1,5 kilometer, kita akan sampai di gapura kedua. Di sinilah bagi Anda yang membawa kendaraan roda dua harus parkir. Dari gapura kedua ini kita harus meniti sekitar 160 anak tangga untuk sampai di lokasi Candi Selogriyo.


Usai meniti sekitar 160 anak tangga, kita akan sampai di sebuah candi yang relatif kecil dengan taman yang cukup terawat. Itulah Candi Selogriyo. Semilir angin, udara yang segar, serta suara aneka serangga dan kicauan burung membuat lelah yang disebabkan meniti anak tangga hilang seketika.



 


    Menurut seorang warga Dusun Campurejo, penyebutan “Selogriyo” sebagai sebuah candi bukan berasal dari warga Dusun Campurejo. Warga Dusun Campurejo yang bekerja sebagai petani ini menceritakan bahwa dahulu orang-orang tua menyebut “Watu Omah” untuk bangunan yang kini dikenal sebagai Candi Selogriyo. Dahulu “Watu Omah” berada di antara semak-semak dan tidak terawat. Setelah dipugar oleh Dinas Purbakala, “Watu Omah” kemudian “dirawat” oleh warga Dusun Campurejo dan dijaga oleh juru kunci bernama Mbah Said (kakek juru pelihara Candi Selogriyo saat ini) sehingga menjadi bersih bahkan ramai dikunjungi wisatawan hingga saat ini

    Jika ingin menikmati keindahan matahari yang mulai muncul pada waktu pagi, datanglah pagi-pagi sekali ke Candi Selogriyo. Juru pelihara Candi Selogriyo akan memandu Anda mencari lokasi  untuk melihat matahari terbit. Namun, harus membuat janji terlebih dahulu karena detik-detik saat matahari terbit ini tidak bisa kita nikmati setiap hari. Posisi terbit atau munculnya matahari selalu bergeser dari hari ke hari. Selain itu, cuaca akan sangat menentukan. Jika cuaca di bagian timur mendung atau berkabut, matahari tidak akan terlihat. Menurut juru pelihara Candi Selogriyo, posisi munculnya matahari dari hari ke hari selalu bergeser dari selatan ke utara dan ketika mencapai titik tertentu akan kembali bergeser ke selatan. Warga setempat menjadikan posisi matahari dan tiga gunung (Merapi, Merbabu, dan Telomoyo) yang berada jauh di sebelah timur sebagai patokan untuk menandai musim. Jika posisi matahari berada di sebelah utara Gunung Merbabu, berarti sudah masuk musim kemarau. Jika posisi matahari berada di sebelah selatan Gunung Merbabu, berarti sudah masuk musim hujan.


 



Siluet Candi Selogriyo



    Posisi paling bagus untuk menyaksikan matahari terbit dari Candi Selogriyo adalah ketika posisi matahari terbit berada di antara Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo, yaitu pada musim kemarau, sekitar akhir Mei atau awal Juni sampai Agustus. Ini pun jika sedang beruntung. Ketika matahari di posisi ini, jika beruntung kita bisa menikmati sekaligus mengambil gambar siluet Candi Selogriyo dengan latar belakang matahari yang baru terbit dari sisi barat candi atau lereng timur Bukit Condong.

    Nah, jika selama ini Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon menjadi tujuan kunjungan Anda ketika berada di Kabupaten Magelang, sesekali cobalah mengunjungi Candi Selogriyo. Dijamin Anda akan mendapatkan pengalaman berwisata yang berbeda, lebih-lebih jika Anda adalah penggemar wisata jelajah (tracking) sekaligus hobi fotografi.




oleh Eko Sugiarto