A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/mgl011/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/mgl011/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/mgl011/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/mgl011/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/mgl011/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/mgl011/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/mgl011/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/mgl011/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

Wisata Kulon Ndeso: Harmoni Tiga Sungai Purba di Lembah Menoreh

ANASTASIA TITISARI WIDYASTUTI Artikel




       Ada satu hal yang menarik ketika membicarakan tempat ini, yakni tentang legenda sungai-sungai purba yang mengalir di tepi Menoreh. Sungai penuh sejarah yang berasal dari banyak gunung ini masih setia mengalir dan menghidupi ratusan hektar sawah yang terhampar di tepiannya. Kearifan lokal, ketenangan spritual yang berpadu dengan lukisan alam yang memesona telah meneriakkan satu pesan: tempat perawan ini mulai menunjukkan geliatnya!


Merupakan hal yang sangat mudah untuk menemukan sudut berswafoto ditempat yang masih berada di kawasan Kabupaten Magelang ini. Saat pagi datang, pengunjung akan disambut dengan pendaran cahaya ungu oranye dari lekuk gunung yang terpantul elok di aliran sungai. Perlahan, hamparan sawah pun terlihat terang, tersusun rapi dengan jembatan bambu yang dibuat berkelok. Bagi pengunjung yang suka fotografi, tempat ini adalah syurga untuk mengabadikan keindahan alami desa. Tak hanya itu, tempat ini sebetulnya lebih dari sekedar selfie!


Wisata Kulon Ndeso menyuguhkan mahakarya alam dengan sejuta filosofi. Saat berkunjung, kita akan disambut dengan pertemuan aliran sungai yang berasal dari sumber mata air yang berbeda. Sungai-sungai purba yang sudah tercipta sejak zaman tersier ini adalah Kali Progo yang berhulu dari Sindoro, Kali Elo yang berhulu dari Merbabu, dan Kali Pabelan yang berhulu dari Merapi. Ketiga sungai ini bertemu di Kulon Ndeso dengan arus yang lembut sehingga aman apabila kita ingin berbasah-basah.


    Geliat Wisata Kulon Ndeso tak dapat dipisahkan dari keresahan pemuda di Dusun Sokorini 2. Mereka melihat terdapat ketimpangan pada pemberdayaan ekonomi yang masih terpusat di wilayah tertentu dan kurang  menyentuh daerah pinggiran. Saat melakukan kajian, para pemuda mulai menyadari bahwa keindahan alam dan kearifan lokal dusun dapat dijadikan sebagai salah satu alat pemberdayaan sekaligus sarana merekatkan pemuda pada kegiatan yang lebih produktif. “Banyak pemuda di dusun kami yang berbakat, namun belum ada wadah” ucap Syaiful saat ditemui di rumahnya. Syaiful adalah penggagas sekaligus ketua Pokdarwis Kulon Ndeso yang mempunyai jasa besar dalam pengembangan tempat wisata yang masih dibilang baru ini. Ia mengatakan bahwa jika tidak ada wadah, bakat-bakat dan semangat pemuda akan hilang, bahkan bisa dilampiaskan ke hal-hal negatif. Upaya menggaet minat pemuda ini rupanya gayung bersambut dengan tokoh masyarakat sehingga belum ada satu tahun tempat ini mulai diminati banyak kalangan.


    Sementara itu, pengelolaan yang bersifat komunitas membuat Wisata Kulon Ndeso cepat berkembang. Kekuatan jejaring dari setiap warga menciptakan semangat membangun wisata berbasis lokal yang edi peni.  Keramahan warga membuat pengunjung merasa tidak menjadi orang asing, merasa diterima, dan menjadi bagian dari detak aktifitas desa. Dana yang didapatkan dari penjualan tiket dan parkir sebesar lima ribu rupiah setiap orangnya digunakan untuk pemberdayaan desa dan pengembangan fasilitas. Semua dikelola dalam Pokdarwis yang tetap mengedepankan pemberdayaan warga.


    Upaya ini patut ditiru karena secara ekonomi wilayah Sokorini termasuk dalam wilayah kuning yang berarti memiliki tingkat kesejahteraan rendah. Menurut data Bappeda tahun 2018, Sokorini termasuk dalam tujuh desa yang perlu mendapatkan percepatan angka penurunan kemiskinan. Angka kemiskinan yang diturunkan ditargetkan sebesar 4, 86% sehingga perlu ada kerja kolektif yang tersistem. Upaya ini sesuai dengan Perbup 17 tahun 2016 tentang Pembentukan Tim Penanggulangan Kemiskinan Tingkat Kecamatan dan Desa/Kelurahan guna peningkatan guna akselerasi dan koordinasi lintas kelembagaan.

    Berpijak dari kebijakan tersebut, Nama Kulon Ndeso pun didapatkan dari proses diskusi dengan warga. Nama Kulon Ndeso dipilih karena tempat ini merupakan tempat paling barat dari Kabupaten Magelang yang langsung berbatasan dengan Kulon Progo. Dengan adanya diskusi ini, setiap warga merasa ikut dilibatkan dalam pengembangan wisata yang diharapkan menjadi salah satu roda penggerak wisata. Kondisi ini membuat pengelola menyusun sistem yang lebih rapi agar keterlibatan warga tetap tepat sasaran dan sesuai dengan konsep awal.

    Secara geografis, Wisata Kulon Ndeso mudah dicapai apabila bepergian dengan kendaraan pribadi. Dari pasar Muntilan, wisatawan menuju arah selatan, dan apabila sudah menemukan pertigaan besar, belok ke kiri beberapa meter. Kita pun bisa melihat banner besar yang bertuliskan Wisata Kulon Ndeso. Apabila wisatawan merasa kesulitan dengan arah lokasi, kita bisa menghubungi nomor yang tertera di Instragram dan pihak pengelola akan dengan ramah menerangkan arah sampai kita menemukan tempat wisata.


    Daya magis Kali Progo di Wisata Kulon Ndeso ditengarai menjadi salah satu penarik wisatawan untuk berkali-kali datang. Hulu utama sungai ini berasal dari Gunung Sindoro Kabupaten Temanggung, namun saat mengalir ke selatan berbaur dengan beberapa sungai yang berhulu dari Merapi, Merbabu, Sijambul dan Sumbing.  Dengan adanya keterkaitan ini, Kali Progo dipercaya sebagai jalur penghubung Laut Selatan dengan Merapi.


    Kulon Ndeso mendapat anugerah alam berupa tempat pertemuan langsung Kali Pabelan yang mengalir ke aliran utama Kali Progo. Keindahan pesona ini begitu mudah dinikmati karena Kulon Ndeso memiliki dataran dengan hamparan sawah di tepi selatan. Apabila ingin menikmati keindahan ini, kita dapat berjalan di jembatan-jembatan bambu untuk menambah romantika suasana pedesaan. Tak hanya itu, pengunjung pun bisa menyeberang ke arah utara untuk menikmati pemandangan di sisi yang berbeda.


    Jembatan dari material bambu ini dipilih karena bambu merupakan tanaman yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan tradisi masyarakat dan mempunyai nilai filosofi dalam budaya Jawa, misalnya fleksibel, memiliki banyak manfaat, dan mampu menjulang tinggi walau klasifikasinya termasuk tanaman rumput. Berdasarkan filosofi ini, apabila kita ingin menambah nuansa Jawa, kita pun bisa menyewa caping di tempat permbelian tiket. Caping ini dipilih karena memiliki makna kesalingsinambungan antara penguasa alam dengan kehidupan sosial. Semakin tinggi hubungan kita dengan Tuhan, maka semakin luaslah dampak yang kita berikan kepada masyarakat.


Sambutan luar biasa masyarakat pada kemunculan Kulon Ndeso membuktikan adanya keterkaitan yang kuat antara pengembangan wisata dan budaya masyarakat setempat. Tempat wisata ini berdiri bukan pada ruang terpisah, namun tetap berada dalam balutan budaya yang dikemas milenial untuk menarik wisatawan. Dengan mengusung jargon Gemah Ripah Loh Jinawi, Kulon Ndeso ingin bertransformasi menjadi daerah maju dengan tetap membawa kultur Jawa ke ranah yang lebih elegan.

 

Ayo ke Kulon Ndeso!

Sebagai tempat wisata yang baru berkembang, Kulon Ndeso memiliki tantangan spesifik, misalnya belum tersedianya fasilitas yang lengkap apabila ingin melakukan kegiatan fisik, belum adanya tim keselamatan yang berjaga di lokasi wisata, beberapa bangunan belum mencitrakan budaya Jawa, selain itu penambangan masif di sepanjang aliran sungai Pabelan membuat air di beberapa titik terlihat keruh. Menyangkut perkembangan infrastruktur yang kurang, pengelola berupaya melengkapi dengam bekerjasama dengan beberapa pihak, misal BUMDES, Perguruan Tinggi, dan beberapa komunitas sosial. Pengelola juga melakukan sosialisasi secara gencar di sosial media agar Kulon Ndeso dapat menjadi destinasi wisata unggulan di Kabupaten Magelang.

Tak bosan rasanya menggambarkan suasana Kulon Ndeso. Kolaborasi antara alam dan budaya masyarakat mencuatkan hasrat untuk terus mengembangkan tempat wisata berbasis aktifitas lokal. Bagi Syaiful, diperlukan pemahaman tentang budaya dan filosofi di wisata ini sehingga tamu yang datang akan memperoleh nilai kebijaksanaan selepas berkunjung. Peluang selalu terbuka, apalagi potensi alam bak syurga eden di tanah Jawa ini jika dikembangkan dengan maksimal akan menjadi sumber pendapatan warga secara berkesinambungan. Hal ini akan terwujud jika masyarakat mau berpikir kreatif untuk memajukan daerah marginal ditambah dengan semangat kita semua untuk mendukung potensi wisata di kabupaten kita sendiri.



oleh Dwitya Sobat Ady Dharma